FORUM BFA : ASIA MASIH JADI LOKOMOIF PERTUMBUHAN EKONOMI GLOBAL

  • Info Pasar & Berita
  • 26 Mar 2026

08438323

IQPlus (26/3) - Asia masih menjadi mesin pertumbuhan utama dunia, seiring dengan terus meningkatnya pangsa kawasan ini dalam produk domestik bruto (PDB) global, menurut laporan yang dirilis oleh Forum Boao untuk Asia (Boao Forum for Asia/BFA) pada Selasa (24/3), lapor Xinhua pada Rabu.

Ekonomi Asia diproyeksikan tumbuh sebesar 4,5 persen pada 2026, sementara pangsanya terhadap PDB global tahun ini naik menjadi 49,7 persen dari sebelumnya sebesar 49,2 persen pada 2025 berdasarkan paritas daya beli, demikian disebut dalam laporan bertajuk "Laporan Tahunan Prospek Ekonomi dan Kemajuan Integrasi Asia 2026" (Asian Economic Outlook and Integration Progress Annual Report 2026).

Banyak orang percaya bahwa "Abad Asia" telah tiba, kata Sekretaris Jenderal BFA Zhang Jun saat berbicara dalam konferensi pers.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan signifikan, ekonomi Asia tetap tangguh dengan prospek yang positif dan terus memberikan kontribusi penting terhadap ekonomi global, perdagangan internasional, serta pembangunan berkelanjutan, kata Zhang.

Didirikan pada 2001, BFA merupakan organisasi internasional nonpemerintah dan nirlaba yang berkomitmen untuk mendorong integrasi ekonomi regional dan membawa negara-negara Asia lebih dekat ke tujuan pembangunan mereka.

Berlangsung pada 24 hingga 27 Maret, konferensi tahun ini mengusung tema "Membentuk Masa Depan Bersama: Dinamika Baru, Peluang Baru, Kerja Sama Baru", dan kembali digelar di Provinsi Hainan, China selatan.

Menurut laporan tersebut, Asia tetap menjadi tujuan utama investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dunia, yang diakui karena ketahanan, potensi pertumbuhan, serta daya tarik jangka panjangnya bagi investor global, dengan China dan ASEAN memimpin sebagai destinasi paling menarik.

Dari segi teknologi, laporan itu menyebutkan bahwa pusat pengembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global secara progresif bergeser dari Eropa dan Amerika Serikat (AS) menuju Asia.

"Dengan memanfaatkan populasi digital mereka yang besar, ekosistem aplikasi yang beragam, dan kerangka kebijakan yang koheren, perekonomian-perekonomian Asia dengan cepat berevolusi dari pengikut AI menjadi pelopor," demikian pernyataan tersebut.

Rantai industri AI kini semakin luas dan kompleks, dengan berbagai negara di Asia memiliki keunggulan masing-masing di beragam sektor vertikal, kata mitra riset Deloitte China Lydia Chen. "Ke depan, kolaborasi di tingkat industri, perangkat lunak, data, dan kebijakan akan membantu memfasilitasi aliran faktor-faktor kunci yang lebih mudah dan efisien."

Sebuah laporan tentang pembangunan berkelanjutan di Asia juga diluncurkan pada Selasa, yang menyoroti bahwa Asia muncul sebagai kekuatan penting dalam pergeseran global menuju energi yang lebih ramah lingkungan dan rendah karbon, beralih dari "pusat konsumsi energi tradisional terbesar" menjadi "pemimpin dalam pengembangan energi bersih."

Dalam hal kemajuan integrasi Asia, laporan itu menyebut bahwa fondasi integrasi perdagangan Asia terus menguat, dengan data menunjukkan ketergantungan perdagangan intrakawasan naik dari 56,3 persen pada 2023 menjadi 57,2 persen pada 2024, seiring perekonomian-perekonomian utama di kawasan itu semakin memperkuat hubungan dagang mereka dengan satu sama lain.

Perekonomian-perekonomian Asia-Pasifik semakin beralih dari integrasi individual dalam rantai nilai global menuju model integrasi regional bersama, dengan banyak negara naik dalam rantai nilai berkat dukungan dari dalam kawasan, demikian disebutkan dalam laporan.

Didorong oleh meningkatnya investasi dalam infrastruktur digital, dividen permintaan dari pasar Asia yang luas, serta semakin dalamnya integrasi ekonomi kawasan, kawasan ini secara bertahap bertransformasi dari sekadar partisipan dalam perdagangan jasa global menjadi salah satu mesin utama pertumbuhannya, papar laporan itu.

Menggambarkan Asia sebagai mercusuar pertumbuhan global dalam beberapa tahun terakhir, Denis Depoux, direktur pelaksana global Roland Berger, menyebut bahwa China memainkan peran kuat dalam tren tersebut, didorong oleh terobosan teknologi yang signifikan.

China, dengan keunggulan pasar yang besar, terus memperluas keterbukaannya terhadap dunia, khususnya dengan mendorong bentuk baru globalisasi ekonomi yang inklusif dan menguntungkan bagi semua, kata Sang Baichuan, dekan Institut Ekonomi Internasional di University of International Business and Economics. "Hal ini memungkinkan pasar China yang terbuka dan sangat besar memberikan lebih banyak peluang bagi perekonomian-perekonomian Asia dan dunia yang lebih luas."

Dia menambahkan bahwa sebagai hasilnya, kohesi internal ekonomi Asia akan semakin diperkuat, dan ketahanannya terhadap guncangan eksternal akan meningkat. (end/ant)

Kembali ke Blog