03329832
IQPlus, (03/2) - PT Satu Visi Putra Tbk (VISI) memaparkan strategi bisnis dan evaluasi kinerja terbarunya dalam agenda Public Expose Insidentil yang digelar secara daring. Di tengah tantangan kenaikan biaya logistik dan fluktuasi harga saham yang ekstrem, manajemen Perseroan menegaskan komitmennya untuk memperkuat struktur keuangan melalui efisiensi beban bunga perbankan.
Evaluasi Kinerja dan Margin Laba Hingga kuartal ketiga (Q3) tahun 2025, Perseroan mencatatkan total penjualan sebesar Rp250 miliar dengan laba bersih senilai Rp2,45 miliar. Angka ini menunjukkan Net Profit Margin (NPM) yang cukup tipis di bawah 1%. Direktur Utama Perseroan, Bapak David Dwiputra, menjelaskan bahwa penurunan profitabilitas tersebut dipicu oleh kenaikan biaya logistik dan bahan baku yang signifikan sepanjang tahun 2025.
Menanggapi hal tersebut, manajemen berencana melakukan langkah konkret dengan menekan porsi utang (deleveraging) untuk mengurangi beban bunga perbankan yang dinilai cukup tinggi. "Manajemen ada langkah ke depannya untuk mengurangi jumlah outstanding sehingga bisa meningkatkan persentase profit kita," ungkap manajemen dalam sesi tanya jawab.
Ekspansi Manufaktur dan Target 2026 Terkait ekspansi, Perseroan telah mendirikan anak usaha baru, PT Polymer Putra Sejahtera, pada September 2025 untuk memproduksi PVC foam board. Meski memiliki lini produksi baru, VISI menetapkan target pertumbuhan penjualan tahun 2026 yang konservatif di angka 5%.
Manajemen menilai target tersebut sangat realistis dan moderat mengingat kondisi ekonomi tahun 2026 diprediksi masih menantang. Perseroan juga memilih bersikap selektif dalam pengelolaan piutang dengan menghindari debitur kategori high risk guna menjaga kesehatan arus kas.
Tanggapan Atas Volatilitas Saham Mengenai fluktuasi harga saham yang sempat memicu suspensi cooling down oleh bursa, manajemen menyatakan saat ini belum memiliki rencana untuk melakukan aksi korporasi seperti Right Issue atau peningkatan free float. Fokus utama Perseroan saat ini adalah menjaga fundamental bisnis tetap solid di tengah dinamika pasar modal Indonesia yang volatil. (end)