08330216
IQPlus, (25/3) - PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk (IDX:CEKA) atau Perseroan secara resmi menyampaikan keterbukaan informasi terkait dampak penutupan Selat Hormuz terhadap kelangsungan bisnis perusahaan. Penutupan jalur laut strategis tersebut telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia yang merembet pada lonjakan harga bahan baku utama Perseroan.
Dalam laporan tertulisnya tertanggal 18 Maret 2026, Sekretaris Perusahaan, Emmanuel Dwi Iriyadi, mengungkapkan bahwa harga bahan baku crude palm oil (CPO) dan palm kernel telah meningkat hampir 10% dari level harga sebelumnya. Selain bahan baku utama, kenaikan harga minyak bumi ini juga berdampak pada membengkaknya biaya bahan pembantu serta peningkatan biaya logistik.
"Dampak terhadap kegiatan operasional adalah Perseroan membutuhkan biaya lebih banyak untuk pembelian bahan baku, bahan pembantu, dan pembayaran biaya logistik," jelas manajemen dalam dokumen resmi tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 diakui telah meningkatkan volatilitas di pasar energi dan keuangan global. Meski tidak memiliki operasi langsung di wilayah konflik, pihak Wilmar Cahaya Indonesia menyatakan bahwa guncangan ekonomi global seperti fluktuasi nilai tukar valuta asing dan gangguan rantai pasokan global tetap akan memengaruhi kinerja keuangan secara tidak langsung.
Hingga saat ini, belum ada dampak hukum yang dialami Perseroan. Namun, manajemen berkomitmen untuk terus memonitor perkembangan situasi di Selat Hormuz dan menaati peraturan pemerintah guna mencegah potensi konflik hukum di masa depan. (end)