AKR Corporindo

  • Riset
  • 26 Okt 2023
Bob Setiadi
Genie Purnamasari

Highlights

  • Laba bersih AKR Corporindo (AKRA) di 3Q23 mencapai Rp756 miliar (+83% qoq, +30% yoy), sehingga laba bersih di 9M23 menjadi Rp1.7 triliun (+20% yoy), kinerja ini sesuai dengan estimasi kami (70% dari FY23F), namun lebih rendah dari konsensus Bloomberg (64% dari FY23F). Pendapatan AKRA di 3Q23 mencapai Rp10.1 triliun (+14% qoq, -19% yoy), sehingga pendapatan AKRA di 9M23 menjadi Rp30 triliun (-13% yoy). Pada 3Q23, Java Integrated Industrial Port & Estate (JIIPE) mencatat penjualan lahan seluas 10ha, dengan nilai pendapatan sebesar Rp231 miliar. Hal ini menjadikan penjualan lahan AKRA di 9M23 menjadi 30ha (FY23F: target kami 100ha).
  • Gross profit margin (GPM) AKRA di 3Q23 meningkat menjadi 10.5%, dimana menurut kami terutama didorong oleh kontribusi yang lebih tinggi dari penjualan lahan JIIPE (c.10ha di 3Q23, 9M23: 30ha) dan naiknya margin petroleum business AKRA (3Q23: 9.5% vs. 2Q23: 7.9%). Volume penjualan di petroleum dan basic chemicals sesuai dengan estimasi FY23F kami, dengan pencapaian masing-masing sebesar 69% dan 74% di 9M23.
  • Manajemen AKRA mempertahankan guidance pertumbuhan laba bersih per saham (EPS) sebesar 14-15% untuk FY23F. Manajemen menekankan pada solidnya perolehan arus kas/cash flow AKRA (free cashflow sebesar Rp2,2 triliun di 9M23) serta posisi kas bersih/net cash position yang membaik (-0.17x net gearing di 3Q23). AKRA juga berharap dapat melampaui guidance penjualan lahan JIIPE di 2023F sebesar 70-75ha. Manajemen menargetkan penjualan petroleum sebesar 2,8 juta-2,9 juta KL untuk FY23F (perkiraan kami: 3 juta KL) dan volume penjualan basic chemicals sebesar 1.7 juta KL (perkiraan kami: 1,6 juta KL). Sensitivitas terhadap angka-angka kami: setiap perubahan Rp100 pada petroleum spread akan berdampak sekitar 11% pada laba bersih per saham (EPS) 2023F AKRA, sementara setiap perubahan 2.5% pada volume penjualan akan berdampak 2% pada laba bersih per saham (EPS) 2023F.
  • Kami mempertahankan rekomendasi ADD dan target harga (TP) di Rp1,650. Menurut kami investor belum sepenuhnya memperhitungkan kenaikan penjualan lahan di JIIPE dan potensi pendapatan berulang (recurring income) dari layanan utilitas. Risiko: 1) petroleum spread dan penjualan lahan yang lebih rendah dari perkiraan, dan 2) volume penjualan petroleum dan basic chemicals yang lemah. Katalis re-rating potensial: penjualan lahan yang lebih tinggi di JIIPE dan spread minyak bumi yang lebih baik dari perkiraan.
Kembali ke Blog